Category Archives: Daily Notes

Protected: Ramadan 1433H | H-22

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Protected: SD Muhammadiyah

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Protected: Insan

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Protected: Sleeping Babe

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Protected: Water+Blood=Hurt

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Super Extra Intensive Arabic Class

Summer ini berasa semester reguler buat saya. Karena Fulbright dan UIUC mensyaratkan grantee-nya untuk mengambil matakuliah minimal 4 credit hourssupaya tetep dapet stipend dan tuition waiver, jadilah saya nyaris nggak libur tahun ini. Sebetulnya, udah lama juga sih ditimbang-timbang untuk nggak liburan (baca: jalan-jalan) Summer ini. Berhubung April kemarin kami sekeluarga  udah jalan sekitar hampir 6000 mil ke 14 states di belahan tengah hingga barat Amrik –meski hanya dalam waktu 10 hari, hiks… =(– tapi ya sudahlah, anggep aja itu cukup. Toh akhirnya yang paling menentukan bakal jalan-jalan ato enggak ya si dompet, ya tho….
Jadi begitulah… Summer ini saya kembali ambil matakuliah. Tadinya sih niatnya cuma buat memenuhi syarat administrasi aja. Tapi demi melihat begitu banyaknya kuliah menarik yang ditawarkan oleh university, tergodalah saya yang otaknya pas-pasan ini untuk berkeinginan ambil ini-itu. Kalau orang lain kejar setoran biar cepet lulus dan segera pulang kampung, hhmmm… saya beda. Saya kejar waktu biar bisa ambil kuliah banyak-banyak sebelum akhirnya nggak ada yang mau biayain saya kuliah di sini 😀.

Menjelang Summer term, saya mulai incar matakuliah ini-itu. Hhhmmm… pas ngincer sih masih idealis… sok mampu, gitu…. Tapi begitu melewati ujung-ujung semester Spring dengan setumpuk paper, plus badan sakit-sakit, leher pegel-pegel, dan kepala pusing-pusing gara-gara si kopi kembali jadi sahabat karib saya, jadilah… saya berubah pikiran! Saya nggak mau ambil kuliah berat-berat selama Summer! Mengikuti saran advisor, akhirnya saya putuskan untuk ambil kelas Arabic. (Dilarang heran, kenapa mahasiswa Arsitektur ngotot ambil kuliah Bahasa Arab :)). Plus… saya penuhi permintaan advisor untuk ambil 1 independent studybersama beliau untuk baca dan diskusi karya-karya Foucault dan beberapa buku lain yang berkaitan dengan historydan historiographyIndependent study ini sendiri 2 credit hours dan hanya ketemu 3 kali selama bulan Mei, dengan tugas akhir short paper sepanjang 12-15 halaman. Sementara Arabic class terbagi ke dalam 2 kelas: Elementary Standard Arabic (ESA) 1 sebanyak 5 credit hours di sepanjang bulan Juni dan ESA 2 sejumlah 5 credit hours juga selama Juli. Jadi totalnya… saya ambil 12 credit hours Summer ini!!! Yah… okaylah, nggak pa-pa, gitu pikir saya waktu itu. Saya pikir, toh  saya “cuma” akan kuliah 1 di bulan Mei, dan 1 di bulan Juni dan Juli.

Bulan Mei berlalu baik-baik saja. Saya masih bisa memenuhi tuntutan independent study, sekaligus meluangkan waktu  untuk berkumpul-kumpul dengan teman-teman Indonesia di Urbana-Savoy. Begitu memasuki Summer session 2 mulai tanggal 9 Juni 2008, saya mulai menyadari kalau ada yang salah. Saya salah duga!!! Tadinya saya pikir kuliah bahasa tidaklah terlalu sulit. Yah, mirip-mirip kursus macem di CCF atau JLCC dulu-lah. Hhmm… tiga hari berlalu, bayangan itu sama sekali salah! Saya masuk kelas jam 9 – 2 siang tiap hari, dengan break selama 1 jam (dari jam 11-12). Tiba di rumah sekitar jam 2:30 dalam keadaan capek. Setelah istirahat selama kurang lebih 1 jam, saya mesti kembali berhadapan dengan buku Arabic untuk mengerjakan pe-er yang selalu setumpuk. Belum lagi, karena saya berada di graduate section, tuntutan kemandirian dalam belajar juga cukup tinggi. Tiap pagi, dosen saya selalu tanya, “Kemarin belajar berapa jam? Latihan ngomong pakai Arabic berapa jam? dst”. Belum lagi, waktu lunch break, kami selalu diajak duduk bersama (oleh si dosen) untuk terus latihan ngomong. Kalau kebetulan ada tampang-tampang Arab lewat, dipanggillah sama si Pak Dosen untuk berkenalan sama kami dan memberi kami kesempatan untuk ngobrol sebanyak-banyaknya dengan native speaker. Dalam Bahasa Arab, tentunya! Kebayang nggak sih enegnya…

Berhubung setiap pagi selalu ditanya lama waktu latihan di luar kelas, maka untuk keperluan latihan, saya ‘meminjam’ beberapa anaknya teman. Alhamdulillah saya punya banyak kenalan dari Middle East di sekitar rumah. Kebanyakan saya kenal tak sengaja gara-gara sama-sama pakai jilbab dan sering ketemu di laundry atau playground. Alhamdulillah juga anak-anak ini cukup kooperatif dan pinter bikin saya lebih pede ngomong plus melupakan malu :p. Belakangan, saya juga selalu menyapa kenalan dari Middle East dengan Arabic. Tapi lucunya, kok ya mereka sempet terbengong-bengong. Apa mungkin karena saya pakai Standard Arabic yang emang amat sangat formal seperti yang kita temukan di Quran ya? Kebayang nggak sih, disapa orang, “Bagaimanakah berita Anda hari ini? Anda baik-baik saja, bukan?” Dan lucunya lagi, mereka selalu jawab, “Fine, alhamdulillah…”. Lho, lho… kok ya jawabannya pake English tho?! Mungkin karena hidung saya jauh kurangnya dari mancung, jadi nggak dipercaya bisa ngomong Arabic :p.

Masalah terbesar ketika saya ambil kelas yang super extra intensive ini adalah kesulitan manajemen waktu. Meskipun siang hari amat sangat panjangnya di waktu summer ini (Subuh jam 4 dan Maghrib jam 8:30 malam), tapi nyatanya siang hari tidak bisa dengan mudah digunakan semaksimal mungkin untuk kegiatan produktif. Ternyata tubuh saya tetap saja nggak bisa bohong kalau tetap butuh istirahat. Dan ternyata, hati saya tidak bisa berkelit bahwa ia tergoda untuk menikmati summer untuk berlibur dan bersenang-senang 🙂.

Kesulitan berikutnya adalah manajemen pikiran. Susah ya, ternyata berbagi kepala. Nasib buku-buku yang menarik yang sudah saya check-out dari librarynyaris tragis, karena cuma teronggok memenuhi rak buku di apartment. Saya bukan saja nggak sanggup menyediakan waktu, tapi juga nggak mampu membagi pikiran untuk sekadar buka-buka sepintas. Duh, sedihnya….

Sebetulnya saya bukan meremehkan belajar bahasa. Saya baru sadar setelah hampir 2 minggu saya berada di kelas Arabic, bahwa ternyata ada perbedaan yang amat mencolok dari kebiasaan saya ‘belajar’ selama ini dengan sistem belajar bahasa di kelas Arabic ini. Kalau biasanya, saya baca buku dengan minat ‘ingin tahu’ tentang sesuatu yang tentu saja saya minati dong. Misalnya tentang bagaimana kondisi sosial di masyarakat Muslim di Middle East. Hhmm… ini sangat realistik kan, dan sama sekali tidak abstrak. Kalaupun ada bacaan yang teramat abstrak dan mbulet bahasanya–seperti bukunya Lefebvre yang saya baca Spring lalu–, tapi saya tetap enjoy karena yang ia bicarakan di buku itu masih dalam batas spektrum minat saya dan yah… kebayang-lah ke mana arah pembahasan di bukunya. Sementara di kelas bahasa, saya dituntut banyak hal yang sama sekali tidak pernah dituntutkan ke saya dalam kelas-kelas saya sebelumnya. Salah satunya adalah menghafal. Walakadda! Lha emak-emak udah uzur kayak begini disuruh menghafal vocab plus bagaimana cara menulisnya?! Selama ini saya tidak pernah menghafal bahan kuliah saya di kelas lain. Yang ada, saya baca, saya ngerti, lalu itu saya jadikan bekal untuk diskusi di kelas. Lha kalo di Arabic, mosok mau diskusi kenapa tulisan “kitaab” ta-nya panjang. Atau kenapa huruf ‘ba’ dotnya di bawah?! Lak ya lucu tho? Belum lagi masalah grammar yang tidak bisa dibilang sederhana di bahasa Arab. Masalah lain lagi, adalah dan ternyata adalah kemampuan memahami soal. Suatu kali kami latihan mengerjakan soal di kelas. Saya tidak terlalu mendengarkan penjelasan dosen saya. Toh ada perintahnya berbahasa Inggris di bagian atas soal latihan itu. Jadilah saya baca. Bla… bla… bla, kayaknya disuruh memakai kata dari kolom A dan B, trus dibuat kalimat. Jadilah saya membuat kalimat-kalimat berbahasa Arab dengan serius. Beberapa saat kemudian, teman-teman saya sudah selesai. Lha, kok cepet amat mereka kerja. Mereka yang terlalu genius, apa saya yang terlalu lambat mikirnya? Eh, ternyata perintah soalnya cuma disuruh masang-masangin, tanpa perlu dibuat kalimat. Ealaaah… ya mohon dimaklumi aja. Perasaan, soal macem gitu terakhir kali saya dapet pas SMP, jadilah nggak ngeh kalau perintahnya cuma “jodohkan”. Mana saya kan belum pernah mengelola biro jodoh atau jadi mak comblang :p.

Minggu depan ini akan jadi minggu terakhir kelas Arabic 1. Saya lagi mikir-mikir nih, mo diterusin ke kelas kedua nggak ya?

Selamat Datang Musim (ke-)Dingin(-an)

Brrr… pernah kebayang ngga berada di tempat bersuhu minus derajat Celcius? Mendengar cerita temen-temen tentang musim dingin yang ganas di Midwest pun sudah membuat saya menggigil kedinginan. Jangankan pada saat Winter, waktu Summer pun kadang terasa dingin berada di luar rumah. Mungkin karena memang anginnya yang cukup kencang. Sehingga seringkali saya tidak mengindahkan estetika berbusana. Pada saat orang lain memakai baju minimalis, bertank-top dan ber-short-pans ria, saya masih memakai jaket lengkap dengan capuchonnya. Yah, keliatan nggak kontekstual kali ya…, tapi saya mah cuek bebek kwek kwek kwek kwek kwek aja, hehehe….

Begitu September berakhir, udara di Urbana semakin dingin. Suhu di luar ruangan semakin mendekati angka 0 Celcius. Perlengkapan untuk keluar rumah pun semakin tebal. Bukan cuma selapis pakaian tebal, tapi berlapis-lapis. Menurut informasi dari beberapa sumber, baik lisan maupun tertulis, layersterbukti lebih efektif untuk melindungi tubuh dari serangan hawa dingin. Jadilah kami mulai mempersiapkan diri dengan berbagai kaos kaki tebal, syal, sweater, jaket, thermal underwear, dll.

Sungguh luar biasa tubuh yang diciptakan Allah. Saya masih ingat, bagaimana saya menggigil kedinginan di suatu petang, sewaktu menghadiri dinner bersama seorang profesor, tamu dari UK. Saya sudah memakai layers, mungkin empat layers, waktu itu. Tapi profesor saya berkomentar, “This is not cold. This is warm. This is just like spring.” Walakadda, gubrakkk!!! Udah kayak begini kok dibilang anget, gitu pikir saya waktu itu. Waktu itu memang ‘masih’ 4 derajat Celcius, belum sampai 0. Tapi sungguh di luar dugaan, beberapa minggu berlalu setelah itu, dan kami jadi surprised sendiri karena ternyata sekarang suhu hingga 0 derajat Celcius memang masih terasa hangat.

Selama minggu-minggu terakhir, suhu terus turun. Sesekali ia naik sampai 5 derajat Celcius, tapi tak jarang juga turun hingga -4. Dan apa yang kami tunggu-tunggu pun tiba. Salju!

Salju pertama di Urbana turun tepat pada malam hari di mana tugas-tugas semesteran dan kuliah saya berakhir. Hhmm… what a wonderful present! Sungguh luar biasa menyaksikan rerumputan tertutup lapisan putih tipis. Pepohonan yang selama berminggu-minggu sebelumnya hanyalah batang-batang suram, hanya kelabu dan hitam, kini mulai berbinar oleh salju dan es putih berkilauan. Rasanya sungguh seperti mimpi, berada di tempat yang sama sekali berbeda dari tempat di mana saya hampir menghabiskan seluruh perjalanan hidup saya.

Salju mengubah kemuraman menjadi keceriaan. Kami menyeret snow sled yang sudah kami persiapkan dari beberapa bulan sebelumnya ke bukit di dekat apartment dan segera bergabung dengan banyak keluarga lainnya meluncur di lereng bukit yang sudah tertutup salju tebal. Suhu luar biasa dingin karena angin juga bertiup dengan kencang. Pipi dan bagian tubuh lain yang tak terlindungi terasa sakit seperti ditusuk ribuan jarum, tapi rupanya adrenalin yang terpompa bersamaan dengan sled yang meluncur deras ke kaki bukit menutup semua rasa sakit itu.

Salju tak turun lagi selama beberapa hari ini. Kami berharap-harap berdiri di depan jendela dan sesekali mengintip weather forecast, kapan ya salju turun lagi? Hhmmm… sudah lupa dengan kedinginan rupanya.

Kini kami bersiap menyambut suhu yang lebih dingin lagi. Menurut beberapa sumber, tahun lalu Urbana berada pada suhu hingga 0 Fahrenheit atau sekitar -18 derajat Celcius. Brrrrr…. Selamat datang musim (ke)dingin(an)!