Category Archives: Road to Ph.D.

Grad College: Tutin Aryanti Wins AAUW International Fellowship Award

Date:

08/04/2011
Tutin Aryanti, a doctoral student in the School of Architecture at the University of Illinois at Urbana-Champaign, has been awarded a 2011-12 International Fellowship Award from the American Association of University Women (AAUW). “This is a highly competitive award, and one of the few at this level available to international students,” according to Dr. Ken Vickery, Director of External Fellowships in the Graduate College.  “This year, out of more than 1,200 applicants from 113 countries, there were only 49 winners. So, high praise goes to Tutin for winning this fellowship.” Recipients are selected for academic achievement and demonstrated commitment to women and girls. AAUW’s International Fellowship Award program began in 1917 and was designed originally to provide women from Latin America with opportunities for graduate and postgraduate study in the U.S. Over its history, however, the program has expanded to advance educational and professional opportunities for women from around the globe.  After completing their graduate studies in the U.S., the majority of recipients return to their home countries to become leaders in government, industry, academia, community service, and the arts.
Aryanti’s dissertation research combines ethnography and architectural studies to explore the gendered use of space in Indonesian society. Focusing on 20th and 21st century Islamic architecture in Southeast Asia, she is particularly interested in the cultural practices that undergird the gendered use of space within Islamic mosques, including women’s mosques. “Architecture can help shape gender ideology, and vice versa. In the mosques of Indonesia, we see architecture as both enabling and restricting certain modes of behavior. Men and women behave differently from each other once inside the mosque, and this carries over into life beyond the mosque as well. I’m interested in exploring this interplay between architecture and gendered practices, with the goal being to better establish the linkage between architecture, behavior, and ideology,” says Aryanti. “I also want to raise the possibility that space-use restrictions in mosques can, instead of subjugating women, actually empower them.” Her interest in the gendered use of space began while she was earning a master’s degree in architecture from the Bandung Institute of Technology.  She further explored the issue while conducting research for the Akatiga Center for Social Analysis, a non-governmental organization in Bandung, where she examined the lives of women in Indonesia’s remote areas. Her dissertation therefore stems from longstanding interests in both architecture and women’s studies.
Aryanti arrived at the University of Illinois in the fall of 2007.  She had decided that Illinois was the best place for her to pursue her specific interests in architecture, religion, gender, art, and Southeast Asia.   I’m particularly grateful for being able to study under Dr. Ruggles,” said Aryanti, referring to Dr. D. Fairchild Ruggles in the Department of Landscape Architecture. “Dr. Ruggles has greatly inspired me and helped me develop a deeper understanding of the impact of architecture on people’s daily lives through advanced “theories.”
“I’m also grateful for the help I received from Dr. Vickery, “said Aryanti, referring to the guidance Vickery provided in the development of her fellowship proposal.  “Dr. Vickery gave me excellent advice.  I submitted several proposals last year and none were successful; but after I consulted with Dr. Vickery, I won this fellowship. I only wish I had contacted him earlier.”
As a graduate student and mother of two, Aryanti says she is grateful for the continuous encouragement and support of her husband, who gives her confidence to continue pursuing her studies while he completes his degree at Gadjah Mada University of Indonesia this year. “My husband, my parents, and my in-laws encourage me to reach the highest level of education I can. This helps me tremendously given that my husband and I are currently so far apart.”
Upon the completion of her doctoral program, she will continue teaching at the Indonesia University of Education, where she hopes to promote greater awareness of how ideology and issues of gender permeate the design of buildings and the way people use space.

Road to PhD (5) | Visa

Setelah urusan passport saya selesai (setelah berbulan-bulan lamanya), kami pun mulai dengan proses pengurusan visa. Sebagai syarat untuk pengajuan visa keluarga, kami harus menyiapkan financial proof, berupa Bank Reference yang menyebutkan bahwa pemilik rekening menjamin/men-support suami dan anak-anak saya. Seharusnya kami tidak perlu pinjam uang dengan cara memindahkan uang tersebut ke rekening atas nama saya atau suami. Siapa saja yang mempunyai tabungan cukup, bisa menjadi penjamin visa. Kami datang ke bank tempat membuka tabungan, mengajukan surat permohonan ke bank, dan surat itu jadi keesokan harinya. Hanya saja, di surat itu saya tidak minta ke bank untuk mencantumkan ekuivalensi jumlah tabungan dalam US$, jadi mesti minta ulang.

Jumlah ekuivalensi tabungan yang disyaratkan oleh Fulbright untuk menanggung keluarga sbb: dependent 1=50% annual stipend grantee; dependent 2 dst=25% annual stipend/orang. Untuk kasus saya, karena membawa 3 dependents, berarti 100% annual stipend.

Bank reference dan copy passport sekeluarga saya kirim ke Aminef. Selanjutnya, Aminef mengirimkan dokumen tersebut ke IIE untuk mendapatkan dokumen DS 2019. Dokumen DS ini yang nantinya akan dipakai untuk mengajukan visa. O ya, alhamdulillah saya juga dapat beasiswa PEO IPS Scholarship yang bisa saya pakai untuk support dependents. Jadi acceptance letter dari PEO juga saya kirim ke Aminef dengan catatan bahwa PEO menyetujui grantnya dipakai untuk dependents.

Hingga kira-kira akhir bulan Juni 2007, saya masih sibuk menyiapkan dokumen yang diminta embassy untuk pengajuan visa (setelah saya mendapat kiriman DS 2019 dari IIE). Dokumen-dokumen ini harus diisi online dan langsung diprint: DS 156 untuk saya dan anak-anak, DS 157 untuk suami, dan DS 158 untuk saya dan suami. Ngisinya agak-agak repot dan mesti teliti. Sudah gitu nggak bisa di-save. Sementara setiap kali mengisi ulang, barcode yang ada di form itu juga berubah. Saya ingat, saya bolak-balik mengirim dokumen itu ke Mbak Ratna, di-review, lalu saya perbaiki (tepatnya diisi ulang dari awal).

Minggu pertama Juli sudah lewat, tapi panggilan untuk visa belum juga kami terima. Setelah menelpon ke Mbak Ratna beberapa kali, akhirnya panggilan itu datang juga. Saya dan suami dapat jadwal interview tanggal 10 Juli 2007, kira-kira 12 hari sebelum saya harus tiba di Penn untuk pre-ac, dan 8 hari dari hari keberangkatan yang kami rencanakan. Jadwal itu juga sehari setelah suami operasi gigi. Saya sempat becandain, kalau memang besok ditanya yang agak-agak susah sama petugas embassy, kasih alasan saja lagi sakit gigi, biar bisa pakai bahasa tarzan. :D

Hari Selasa pagi hari ke-10 bulan Juli itu, saya dan suami berangkat pagi-pagi ke Jakarta. Anak-anak tetap di Bandung, dijaga Mbak. Sampai di embassy sekitar jam 5 pagi, dan sudah terlihat sederet pengantri di samping gedung embassy. Di samping ini maksudnya di luar ya. Di jalan di samping embassy, di bawah rel kereta Gambir. Banyak nyamuk pula. Lumayan lama menunggu, kira-kira jam 6:30 kami mulai jalan berbaris ke depan gerbang embassy yang berpagar tinggi. (Ngom0ng-omong, setelah masuk ke balik pagar, kami baru sadar kalau sebetulnya nggak perlu gitu-gitu amat antri visa. Datang siangan juga nggak papa, karena antrinya sama saja.)

Kami melewati pemeriksaan di depan gerbang, lalu terus berbaris hingga ke dalam. Fulbrighters dan dependentsnya tidak perlu bayar ongkos visa yang lumayan besarnya. Alhamdulillah. Karena belum tentu apply visa langsung dapet. Ada banyak kasus yang visanya ditolak, padahal bayarnya mahal juga. Dokumen-dokumen dengan foto yang diatur sedemikian disiplin (ukuran dan proporsi wajah dalam foto) diperiksa petugas. Lalu kami masuk ke ruang loket, setelah melalui pemeriksaan dan penitipan barang. Antrian di dalam lumayan banyak (untung tidak disediakan TV yang memutar sinetron, hehehe…).

Menunggu dipanggil terasa tanpa akhir. Yang lebih bikin kami stres, beberapa orang (termasuk yang bahasa Inggrisnya bagus) ditolak dengan alasan yang kadang kurang jelas. Kami cuma bisa berdoa dan berdoa supaya dimudahkan dan diberi kelancaran.

Ketika giliran kami dipanggil, saya cuma ditanya, “Fulbright?” Lalu suami saya ditanya, “Dulu sekolah di mana? Di sana mau kerja? Mau sekolah?” Semua dalam Bahasa Inggris, dan dijawab dengan jawaban yang sederhana saja. Buku tabungan dan segepok sertifikat yang kami bawa sama sekali tidak dibutuhkan. Petugasnya langsung kasih cap, lalu mengulurkan receipt untuk mengambil visa. Visa saya dan anak-anak akan siap dalam waktu 2 hari, sedangkan visa suami akan siap dalam waktu 1 minggu. Satu minggu?!? Itu kan 1 hari sebelum hari keberangkatan yang kami rencanakan! Alhamdulillah… dan kami merasa lega, semua akan berjalan sesuai rencana. Setidaknya begitu, sampai kami ketemu Pak Piet dan Mbak Ratna di Aminef siang itu. Menurut Pak Piet, visa applicant laki-laki harus melewati proses screening dulu di US. Proses screening ini bisa memakan waktu beberapa hari hingga berbulan-bulan, atau tidak lolos screening sama sekali. Saya bersikeras kalau petugas visa sudah menjanjikan visa suami selesai minggu depan, tapi menurut Pak Piet, kemungkinan mundur itu masih ada. Dan siapa pun memang tidak bisa menjamin!

Di Aminef seusai interview visa itu, kami juga diskusikan soal tiket keluarga dengan Mbak Ratna. Mbak Ratna menawarkan jasa travel yang biasa menyediakan tiket untuk Fulbrighters dengan harga kira-kira $1,500. Keuntungannya, tentu kami tak perlu pusing memikirkan pemesanan (selain pusing memikirkan harganya, tentu saja) dan bisa dilakukan oleh Aminef segera setelah visa suami issued. Saya agak berat menerima tawaran ini, karena Interlink di Bandung menawarkan tiket yang lumayan lebih murah (mungkin karena dipesan dari jauh hari). Untuk suami, tiketnya seharga $980, sedang untuk anak-anak $770. Akhirnya kami nego supaya kami bisa pesan tiket di Bandung, lalu pemesanan tiket saya ditarik ke travel agentnya Aminef (supaya tempat duduk dan pesawatnya juga bisa barengan dengan keluarga).

Dua hari setelah interview, visa saya dan anak-anak siap. Alhamdulillah. Tiket di Interlink pun kami bayar karena memang sudah harus dibayar, kalau nggak mau dapet tiket yang lebih mahal. (Padahal visa suami belum tentu terbit minggu depan). Tapi ya sudahlah… kami harus putuskan, meski sulit.

Rumah di Bandung mulai kami kosongkan. Kami buat sale untuk tetangga-tetangga. Kopor pun satu persatu diisi, ditimbang, dan dibongkar, lalu dipak lagi. Kontrak dengan calon penghuni baru pun kami selesaikan. Malam minggu terakhir, kami buat kumpul-kumpul sederhana dengan tetangga sambil makan jagung bakar dan nasi liwet.

Sehari sebelum jadwal keberangkatan kami ke Amerika, kami sekeluarga boyongan ke Jakarta membawa kopor untuk ke Amerika dan barang-barang yang akan kami titipkan di rumah ibu. Hari itu juga jadwal untuk mengambil visa suami. Meski lega akhirnya urusan rumah beres, tapi kami juga dag-dig-dug memikirkan visa. Sekitar jam 3 sore, di tol Purbaleunyi, saya menelpon Bu Lusi, salah seorang petugas embassy yang membantu mengambilkan visa Fulbrighters. Dan yang kami khawatirkan pun terjadi! Lemas rasanya mendengar visa suami belum jadi. Belum jadi! Dan besok sore pesawat kami sudah akan terbang menuju Amerika!

Road to PhD (4) | Berangkat dengan Keluarga

Sejak awal saya tahu bahwa membawa serta keluarga ke US tidaklah mudah dan sederhana. Seperti yang sudah saya tulis, yang saya lakukan adalah mencari informasi sebanyak-banyaknya dari website (University Graduate Housing, teman dan kenalan yang sudah/pernah di US, dll). Yang tak kalah penting juga, adalah mencari tahu bagaimana kebijakan Fulbright tentang keluarga. Dari Mbak Elin, saya dapat informasi kalau Fulbright memperbolehkan grantee-nya membawa keluarga, tanpa menanggung biaya hidupnya, tentu saja :( . “Boleh berangkat bareng nggak, Mbak?” tanya saya penuh harap. “Dulu sih waktu kita boleh, tapi belakangan ini, Fulbrighters berangkat duluan. Setelah beberapa bulan, baru keluarga nyusul,” kata Mbak Elin. Wah, saya harap-harap cemas. Kebayang, bagaimana repotnya suami mengurus 2 anak berusia 6 dan 3 tahun, sambil menyelesaikan pekerjaannya sebelum ditinggal ke US. Terlebih lagi, kemungkinan besar, rumah sudah mulai dikosongkan untuk dikontrakkan. Akan sangat repot mengosongkan rumah sendirian (meski bisa dibantu Mbak yang sudah 2 tahun ikut kami dan tetangga-tetangga yang ringan tangan). Belum lagi, si kecil Agir belum terbiasa berjauhan lama dari ibunya. Karena pertimbangan-pertimbangan ini, saya pun bertekad untuk bisa mengusahakan (tepatnya memperjuangkan) supaya keluarga bisa berangkat bersama saya.

Kuncinya ada pada Aminef, organizer beasiswa Fulbright di Indonesia. Beberapa kali saya telpon ke Aminef, menanyakan prosedur pemberangkatan keluarga. Mbak Ratna dengan tegas menjawab bahwa Fulbright tidak mengijinkan students/grantees berangkat bersama keluarga. Tapi Pak Piet, di kesempatan yang berbeda, mengatakan, “Biasanya Fulbright tidak mengijinkan ya. Karena kan Anda harus ke kota lain untuk mengikuti pre-academic orientation dan tidak boleh membawa keluarga.” O ya, sebagaimana fulbrighters yang lain, saya harus mengikuti program pre-ac di Lincoln University, Pennsylvania, selama 2 minggu sebelum program kuliah dimulai. Sekalipun nuansanya “tidak,” tapi jawaban Pak Piet sedikit memberi harapan buat saya. “Biasanya…” Wah, berarti sebetulnya bisa dong? Saya konsultasi dengan beberapa teman di US tentang plus/minusnya berangkat dengan keluarga. Kesimpulan saya, kebijakan untuk menunda keberangkatan keluarga didasarkan pada kekhawatiran bahwa students perlu waktu untuk beradaptasi di lingkungan yang baru, dan bahwa akomodasi dan banyak persyaratan untuk keluarga harus dipenuhi sebelum keluarga (apalagi dengan anak kecil) tiba di US. Bisa dibayangkan, betapa kasihan kalau sampai di US masih harus mencari-cari tempat tinggal dll.

Maka yang segera kami lakukan adalah memesan apartment, meskipun saat itu belum ada kepastian soal visa (bisa/tidaknya keluarga dapat visa dari US embassy). Kalaupun akhirnya keluarga nggak jadi berangkat bareng, kami ingin mereka menyusul saya dalam waktu kurang dari 1 semester. Kalau bisa malah jangan sampai 1 bulan sejak keberangkatan saya.

Di Urbana, kebetulan ada 1 orang Fulbrighter yang akan pulang ke Indonesia Agustus 2007 itu. Dia menawarkan barang-barang miliknya untuk saya pakai. Sebagian diberikan gratis, sebagian lagi dijual ke saya dengan harga murah. Dia bahkan menawarkan untuk menyimpankan barang-barang bagus yang mungkin ditemukannya di dumpster, yang masih bisa kami pakai. Dengan begitu, waktu datang kelak, kami tidak perlu terlalu repot mengisi apartment. O ya, atas saran teman, kami memilih non-furnished apartment karena harga sewanya yang jauh lebih murah, sementara perabot bisa dengan mudah dan murah didapat dari garage sale atau warisan teman, atau dumpster. :)

Yang selanjutnya harus kami lakukan adalah negosiasi dengan Aminef supaya diijinkan berangkat bersama. Atas saran Mbak Sofie (yang juga Fulbrighter), saya akan memanfaatkan Pre-Departure Orientation, yang biasanya diadakan di bulan Mei untuk semua grantees yang akan berangkat Fall tahun tersebut. Meskipun Pak Piet dan Mbak Ratna sangat akomodatif menjawab pertanyaan-pertanyaan via telpon, tapi saya rasa, bicara langsung akan lebih nyaman dan yang jelas, tidak terlalu banyak mengambil waktu di sela kesibukan mereka di kantor. (Saya tahu mereka luar biasa sibuk mengurusi grantees yang akan berangkat, sudah berangkat, bahkan yang mau pulang ke tanah air. Masha Allah! Bisa ya kepegang semua dengan rapi.) Saya pun menunggu datangnya kesempatan untuk bicara langsung dengan Pak Piet, karena beliau adalah program officer-nya Fulbright di Indonesia.

Kesempatan itu akhirnya datang juga. Pre-Departure Orientation diadakan di awal Mei 2007, selama 3 hari di Hotel Alila, Jakarta. Agak sulit mencari waktu yang nyaman untuk ngobrol dengan Pak Piet, meskipun saya sempat semeja dengan beliau waktu makan, beramai-ramai dengan beberapa Fulbrighters lain. Saat itu, saya sempat menanyakan soal keberangkatan keluarga, dan ternyata, bukan saya saja yang ingin berangkat bersama keluarga! Jawaban Pak Piet kurang lebih sama, tapi memberi sedikit peluang buat kami.

Hari itu hari kedua PDO. Sarapan pagi. Saya lihat Pak Piet duduk sendiri di meja berkursi 3. Saya menghampiri beliau, menyapa, dan beliau mempersilakan saya duduk semeja. Saya sampaikan ke Pak Piet bahwa saya sudah memesan apartment dan memesan perabot ke teman-teman di Urbana untuk persiapan membawa keluarga. Saya juga sampaikan usulan, bahwa nanti kami akan berangkat beberapa hari sebelum pre-ac di PA dimulai, sehingga saya bisa menemani keluarga ke Urbana dan ketemu dengan teman-teman Indonesia di sana. Saya juga sampaikan, bahwa kami akan membayar selisih tiket dari yang disediakan oleh Fulbright (karena rute saya Jakarta-Urbana-PA-Urbana). Lalu, kembali lagi, saya menanyakan, apakah saya diijinkan berangkat bersama keluarga. Saya tidak merasa perlu menjelaskan alasan saya. “Oh, kalau Anda sudah menyiapkannya, silakan saja. Nanti saya kirimkan informasi untuk mengajukan visa keluarga.” Tak terkira perasaan saya. Lega, senang… masha Allah!

Saya sempat sampaikan hasil pembicaraan saya dengan Pak Piet pagi itu ke teman-teman yang ingin berangkat dengan keluarga. Meski lega dan senang seperti saya, tapi tak banyak teman yang memilih jalan seperti saya, karena skema ini memang tak sederhana. Betul-betul tak sederhana.

Road to PhD (3) | Negosiasi untuk Keluarga

Sejak awal saya menetapkan hati untuk sekolah di US, saya selalu meletakkan keluarga kami dalam pertimbangan utama. Karenanya, begitu mendapat pengumuman bahwa saya lolos seleksi, saya semakin getol cari info ke teman-teman di US, terutama para Fulbrighters, tentang bagaimana kehidupan berkeluarga di sana. Ngomong-omong, saking pinginnya sekolah bareng dengan keluarga, saya bahkan sudah kontak teman sejak saya berangan-angan sekolah di US, tanya-tanya tentang dokumen apa saja yang diperlukan, sekolahnya anak-anak dan bagaimana students (yang terkenal tipis dompetnya :p) bisa membiayai sekolah dan kebutuhan sehari-hari mereka, bagaimana spouse bisa mendapatkan pekerjaan atau sekolah, kebiasaan apa saja yang harus disesuaikan dan berapa biayanya. Untuk yang terakhir ini, satu contoh yang saya ingat adalah soal laundry. Ada juga teman yang sempat mencoba mencuci bajunya secara manual demi mengirit ongkos laundry, tapi akhirnya menyerah setelah kulit jari tangannya sobek-sobek tergerus kerasnya sabun cuci.

Saya juga rajin intip-intip website beberapa universitas incaran, melihat bagaimana suasana graduate housing-nya (sembari menikmati euforia GoogleEarth), berapa sewa apartmentnya, dan peraturan apa saja yang harus diperhatian (dan tentu saja dipatuhi) kalau kita bawa keluarga. Meskipun akhirnya nggak jadi tinggal di apartment yang sudah saya idamkan itu, tapi setidaknya saya belajar beberapa (mungkin juga banyak) hal. Saya baru ngeh kalau jumlah anggota keluarga yang ikut tinggal menentukan jumlah minimal bedrooms yang bisa kita sewa. Kalau hanya berdua hingga bertiga (dengan anak dan pasangan), kita bisa menyewa one-bedroom apartment. Dengan jumlah anggota keluarga 4 orang seperti saya, kami harus menyewa apartment yang minimal memiliki 2 kamar tidur. Saya juga jadi tahu kalau ada form imunisasi untuk saya dan anak-anak (untuk keperluan daftar sekolah) yang harus dipenuhi sebelum tiba di US. Dan bahwa ada standar pendapatan yang harus disiapkan kalau akan sekolah dengan membawa serta keluarga.

Proses pencarian info ini sempat terbentur proses aplikasi sekolah yang sudah diatur oleh Fulbright. Tentu saja kami baru bisa memastikan kota mana yang akan dituju kalau sudah dapat admission letter dari universities yang saya lamar. Jadi, akhirnya persiapan untuk bawa keluarga baru bisa benar-benar saya lakukan di akhir bulan Maret, setelah mendapat surat dari universities (baca: 3 rejection letters dan 1 admission letter :D ).

Pertengahan Maret 2007, saya baru tahu kalau akhirnya saya harus pergi ke University Illinois of Urbana-Champaign, meski sebetulnya di hati saya masih terbayang-bayang MIT atau Princeton (hey… c’mon, wake up!). Jangan-jangan, ini juga yang buat badan saya rentan, sampai terkena gejala tifus bulan itu dan harus fully bedrest hingga 2 minggu :) .

Tapi apa lagi yang tidak saya syukuri? Meski kecewa, tapi akhirnya saya akan berangkat juga. Di kemudian hari, saya betul-betul ditunjukkan bahwa apa yang diberikan pada saya di bulan Maret itu adalah yang terbaik, insha’Allah. Maka mulailah saya fokus mencari info tentang kota Urbana-Champaign. Mbak Elin (waktu itu sedang menyelesaikan disertasinya di Ohio) memberi saya nama Mas Furqon, dosen ITB yang sedang sekolah di UIUC dan kebetulan dulu teman sekolah Mbak Elin. Ah ya, saya baru ingat, Pak Bana dan Pak Indra Djati kan juga lulusan UIUC. Pak Bana beberapa kali ‘promosi’ tentang nyamannya lingkungan UIUC untuk belajar dan kehidupan keluarga. Juga tentang biaya hidupnya yang relatif murah. Sayangnya, kawasan kampus ini tidak kunjung tersorot GoogleEarth. Entah kenapa, Urbana-Champaign seperti tertutup bidang-bidang hijau saja di GoogleEarth.

Di akhir Maret tahun itu, kami mulai sibuk dengan persiapan yang sebenarnya. Kami sengaja menyiapkan 2 lembar karton besar yang ditempel di dinding kamar berisi rencana keberangkatan. Ini ide suami, dan saya akui, terbukti sangat membantu persiapan yang super duper rumit. Bagannya sederhana saja, hanya berupa bubbles yang saling berhubungan, berisi apa saja yang harus dilakukan dan disiapkan.

Saya kebagian tugas mencari info tentang Urbana-Champaign. E-mail pertama saya untuk Mas Furqon menanyakan masalah health insurance dan dokumen-dokumen yang perlu dipersiapkan untuk anak-anak dan keluarga. Mas Furqon kemudian memperkenalkan saya dengan Mbak Sofie, istrinya. Selanjutnya, Mbak Sofie inilah yang banyak bantu menyediakan informasi lewat chatting dan e-mail. Mbak Sofie memberi banyak gambaran tentang apartment di kampus UIUC. Saya sudah seperti titip mata saja ke Mbak Sofie, sampai-sampai menyempatkan konsultasi juga padanya waktu saya mengajukan pilihan apartment ke UIUC Graduate Housing Office :) .

Beberapa dokumen penting yang harus disiapkan adalah record imunisasi anak-anak yang ditandatangi oleh dokter. Form ini saya buat sendiri, berisi nama anak, tempat/tanggal lahir, serta imunisasi apa saja yang sudah dan kapan didapat. Saya hanya menyalin catatan yang ada di KMS (Kartu Menuju Sehat) milik anak-anak, membawanya ke dokter (kebetulan kakeknya anak-anak), dan minta tanda tangan. Anak-anak juga sekalian melengkapi imunisasi mereka (MMR, Hepatitis, HIB). Sebetulnya salah satu persyaratan sekolah mereka adalah tes mantoux (TBC). Tapi menurut info yang saya dapat, anak-anak dan saya tetap akan dites ulang setibanya di US. Jadi akhirnya kami putuskan, anak-anak akan dites di US saja. Sebagai catatan, tes mantoux ini menggunakan jarum suntik yang dimasukkan ke bawah kulit. Kebayang kan sakitnya :) . Saya sendiri waktu itu sudah tes kesehatan lengkap untuk melengkapi persyaratan dari Aminef pasca lolos Fulbright, jadi tahu sudah bagaimana nyerinya.

Suami dan anak-anak juga apply passport, langsung di kantor Imigrasi di Jalan Surapati (Suci) Bandung. Ditemani yangtinya anak-anak, kami berangkat pagi-pagi, berharap mendapat nomor antrian awal. Alhamdulillah prosesnya lancar. Tanpa calo, kami hanya bayar kurang lebih 200ribu (kalau tidak salah) per orang. Memang menunggunya lumayan juga. Kami tiba di sana jam 9 pagi, dan urusan baru selesai sekitar jam 2 siang. Tapi puasnya bukan main. Tanpa calo, gitu lho… :) . Anak-anak menikmati saja proses itu, meskipun cukup lama menunggu (sempat terkena jeda sholat Jumat). Bahkan foto mereka pun tampak ceria. Ada sedikit masalah dengan passportnya Agir (anak bungsu saya), karena kesalahan pencetakan nama. Tapi masalah itu bisa segera diselesaikan dan passport bisa diambil hari Selasa minggu berikutnya (2 hari kerja). Acung jempol deh untuk kantor Imigrasi Bandung. Semoga sekarang masih dan bahkan menjadi lebih baik ya :) .

Sayangnya, saya nggak ikut serta membuat passport di situ. Berhubung PNS, saya diminta (nggak jelas: disarankan, diimbau, atau diwajibkan) menggunakan passport biru (passport dinas). Waktu itu, saya sudah mulai mengurus passport itu lewat pegawai universitas tempat saya bekerja. Kalau saja saya tahu sedemikian ringkas dan transparannya proses kepengurusan di kantor Imigrasi, mungkin saya juga akan mengurus passport saya di sana.

Setelah passport keluarga selesai, kami juga menerjemahkan dokumen-dokumen keluarga: akta kelahiran dan akta nikah. Baru tahu juga kalau penerjemahnya tidak bisa sembarangan. Mesti penerjemah tersumpah. Dan alhamdulillah, bulik di Jakarta membantu kami, bahkan menguruskannya ke penerjemah kenalan beliau. Dokumen pun siap dalam beberapa hari. Waktu itu kami sekalian legalisir terjemahan dokumen-dokumen tersebut beberapa kopi. Tapi ternyata, urusan administrasi di US tidak serumit yang kami bayangkan. Kantor-kantor di sini tidak pernah mempermasalahkan surat/dokumen hasil foto kopi.

Untuk sekolah anak-anak, kebetulan anak pertama kami baru akan masuk kelas 1 SD, dan adiknya baru 3 tahun. Jadi kami tidak perlu meminta surat keterangan atau membawa raport dari sekolah lama. Beberapa teman yang anaknya sudah pernah masuk SD sebelumnya, meminta surat keterangan dari sekolah dan membawa serta raport anak-anak mereka ke US.

Begitu saja untuk bawa keluarga? Ceritanya (tentu saja) belum selesai! :)

Road to PhD (2) | Mencari Profesor dan Universitas

Pada bulan Agustus 2005, saya mulai mencari informasi tentang sekolah-sekolah yang memungkinkan saya mempelajari topik yang saya minati. Pada awalnya kami sangat berminat untuk sekolah di daratan Eropa. Namun ternyata kami tidak banyak menemukan beasiswa untuk S3 di sana. Belakangan saya baru tahu kalau pendidikan S3 di Eropa, terutama UK menggunakan sistem by research, dimana mahasiswa bekerja pada university di bawah bimbingan seorang profesor. Dari situlah mahasiswa akan dibantu membiayai studinya. Selain karena pertimbangan pembiayaan, saya juga tidak banyak menemukan profesor yang memiliki minat yang sama dengan saya.

Pencarian saya akhirnya berubah haluan, ketika pada akhir bulan Agustus itu saya menghadiri sidang terbuka doktoral dari salah seorang dosen saya di ITB. Saya bertemu dengan beberapa dosen muda yang cukup dekat dengan saya dan kami mengobrol tentang rencana-rencana saya. Dua orang dosen muda, Mbak Wiwik (sedang menyelesaikan kuliah S3 di Sheffield, UK dan pernah kuliah S2 di Canada dan Pak Tata (sedang kuliah S3 di NSW, Australia dan pernah kuliah S2 di Penn, US) menyarankan saya untuk mencoba beasiswa Fulbright dan mencari sekolah di Amerika. Mereka berdua, dalam kesempatan terpisah, sangat memotivasi saya. Dan hari itu, saya pulang ke rumah dengan harapan-harapan baru.

Memang benar, university di Amerika menjanjikan kesempatan yang lebih luas buat saya untuk mendapatkan tempat yang cocok untuk topik saya. Saya menemukannya di universitas-universitas besar, seperti MIT, UC Berkeley, Harvard, dan Princeton Univ. Wah, apa saya tidak terlalu bermimpi bisa di sekolah di tempat-tempat luar biasa semacam itu, pikir saya. Tapi tidak masalah. Toh yang penting berusaha sekeras mungkin. I’ll do my best and let Allah SWT do the rest.

Saya pun mulai menghubungi orang-orang yang pernah/sedang sekolah/tinggal di Amerika dan pernah/sedang mendapat beasiswa Fulbright. Hasilnya? Sungguh luar biasa efek psikologisnya untuk saya. Mereka semua memberikan dukungan, tidak hanya moril, tetapi juga membantu saya merumuskan apa saja yang harus saya lakukan untuk mempersiapkan diri. Bahkan, saya juga mendapat sederet nama kontak di Amerika yang melakukan studi di sekitar topik saya (Terima kasih banyak, Pak Tata!). Berbekal semua itu, saya mulai kontak profesor-profesor di Amerika yang memiliki minat penelitian sejalan dengan minat saya. Saya hanya mengirim surat perkenalan berisi minat untuk sekolah dan melakukan penelitian bersama mereka, dilengkapi dengan statement of purpose yang sederhana. Tanggapan mereka sungguh sangat memotivasi saya, meskipun ada beberapa yang sama sekali tidak merespons. Mereka menyatakan ketertarikan dan mengundang saya untuk segera mendaftar di universitas mereka. Seorang profesor dari universitas terkemuka memberi catatan agar saya mempersiapkan bahasa sebaik mungkin, karena itulah masalah yang seringkali dihadapi oleh mahasiswa dari Indonesia.

Meskipun mengirimkan ‘surat cinta’ ke banyak profesor, namun sesungguhnya saya mengincar satu profesor di MIT (duh, tingginya ). Profesor ini memiliki minat penelitian yang persis sama dengan saya, namun dengan wilayah kasus yang berbeda. Dia juga salah seorang profesor karir di Aga Khan Program in Islamic Architecture di MIT. O ya, program AKPIA ini hanya ada di Harvard University dan MIT. Sejak awal Desember, saya sudah mengirimkan e-mail ke profesor ini, sama seperti e-mail ke profesor-prosefor lainnya. Sampai akhir tahun, saya belum juga menerima e-mail balasan darinya, sementara e-mail balasan dari profesor-profesor lain berdatangan sekitar 2-3 hari setelah saya kirim e-mail ke mereka. Saya pikir, mungkin dia sedang berlibur akhir tahun. Sampai akhirnya saya mendapat informasi dari profesor lain di bawah departemen yang sama bahwa profesor yang saya incar itu sudah pindah ke UC Davis. Ia juga memberikan e-mail baru profesor itu agar saya bisa mengontaknya. Tanpa membuang waktu, saya pun tulis e-mail pada profesor impian saya itu dan rupanya pengharapan saya berakhir dengan patah hati. Sebagai profesor baru di tempat itu, dia belum diijinkan untuk membimbing mahasiswa. Selain itu, tidak ada program doktoral di tempat ia bernaung sekarang.

Saya terus mencari profesor yang betul-betul sesuai dengan minat saya dan bersedia menerima saya. Berkorespondensi dengan profesor membangun harapan-harapan baru dalam langkah saya. Memang tidak semua positif. Beberapa profesor menolak, terutama karena kompetensi dan minat penelitian yang kurang sejalan.

Dalam kesibukan dan keruwetan mengontak professors, saya meminta waktu Pak Bana Kartasasmita untuk bertemu, khusus untuk persiapan melamar beasiswa Fulbright. Beliau waktu itu  anggota Board-nya Aminef (yang mengorganisir beasiswa Fulbright di Indonesia). Beliau cerita banyak tentang pengalaman (mantan) mahasiswa beliau yang sekolah dengan beasiswa Fulbright. Saya sendiri cerita ke beliau tentang langkah yang sudah saya jalani, termasuk tentang membangun kontak dengan professors. Beliau menyarankan saya kontak Prof. Chris Silver (former dean di Urban and Regional Planning University of Illinois at Urbana-Champaign, yang tahun itu pindah ke Florida). Chris Silver sering berkunjung ke Indonesia dan berteman baik dengan Pak Bana. Saya tulislah sebuah e-mail ke Chris, meminta rekomendasi beliau tentang professors yang kira-kira sesuai dengan minat kajian saya. Beliau memberikan nama Prof. Faranak Miraftab (Urban & Regional Planning) dan Prof. D. Fairchild Ruggles (Landscape Architecture).

Inilah awal mula saya ‘bertemu’ dengan Prof. Ruggles. Waktu itu, beliau adalah seorang Associate Professor di UIUC. Beliau sangat tertarik dengan proposal penelitian saya dan berbekal itu pula, saya membangun korespondensi yang intensif dengannya. Tidak seperti kebanyakan profesor yang karena kesibukannya susah meluangkan waktu untuk membalas e-mail dari calon student dari negeri antah-berantah, Profesor Ruggles selalu membalas e-mail saya dengan hangat dan cepat. Saya sempat sampaikan padanya tentang pembiayaan kuliah. Beliau pun memberikan informasi mengenai beberapa beasiswa yang dapat saya daftar. Ketika akhirnya saya dipanggil untuk interview beasiswa Fulbright, Profesor Ruggles memberikan dukungan dengan menuliskan surat yang menyatakan minat beliau terhadap proposal saya. Saya yakin, surat beliau merupakan salah satu faktor penting yang menjadi pertimbangan Fulbright menerima saya. Saya juga yakin, beliau pula yang memperjuangkan saya untuk bisa diterima di School of Architecture, UIUC, sebagai satu dari sejumlah PhD student tahun ini yang kurang dari hitungan jari satu tangan.

Sebetulnya, prosedur Fulbright tidak meminta adanya kontak dengan profesor pada saat pendaftaran beasiswa. Namun dari informasi yang saya kumpulkan dari sana-sini, kontak dengan profesor bisa menjadi jurus yang mujarab untuk mengejar beasiswa. Dan ternyata, ceritanya bisa lebih panjang lagi gara-gara ada kontak dengan profesor. (Kalau saya tidak punya kontak dengan profesor, mungkin ceritanya akan berhenti sampai di sini.)

Jalan ke Ph.D. masih panjang…

Road to PhD (1) | Menikah dan Studi Lanjut

Saya berhutang pada beberapa teman tentang bagaimana saya (sekeluarga) sampai di Urbana, IL. Beberapa hal barangkali sedikit masuk ke wilayah personal, namun saya yakin banyak bagian lain yang bermanfaat, terutama bagi mereka yang punya keinginan seperti saya: mencari ilmu di negeri orang.

Keinginan untuk bisa sekolah di negeri orang barangkali sudah mengristal dalam diri saya sejak lama. Ya, sejak saya masih di bangku SMP. Kini, bertahun setelahnya, saat saya sudah berkeluarga, keinginan itu masih tetap menyala. Saya tidak ingin membenarkan pendapat banyak orang bahwa ‘being a woman,’ ‘married,’ and ‘having children’ menjadi penghalang bagi seseorang untuk maju dan mencari ilmu. Menjadi seorang perempuan adalah takdir, sementara menuntut ilmu adalah kewajiban. Saya punya keyakinan bahwa Allah SWT memang menciptakan hamba-Nya dalam perbedaan, namun tidak akan menakdirkan sekelompok ciptaan-Nya tidak mungkin memenuhi kewajibannya. Begitu pula dengan menikah. Dalam agama saya, menikah adalah anjuran. Artinya, lebih baik dilakukan. Dalam hal ini, saya pun yakin bahwa menikah–apabila didasari dengan niat yang baik untuk bersama-sama menjelajah menuju kebaikan dan saling pengertian akan niat baik masing-masing pasangan–tidak akan menghalangi seseorang untuk berbuat kebaikan.  Pun demikian dengan memiliki anak. Saya selalu meyakini bahwa suami dan anak adalah amanah, datang ke dalam hidup saya membawa berkah yang dititipkan Allah SWT untuk saya.

Saya dan suami sudah lama merencanakan ini. Memang kami berdua memiliki prioritas yang berbeda dalam karir kami. Suami saya adalah seorang profesional yang lebih banyak terjun ke dunia praktik, sementara saya adalah pengajar, yang memang dituntut untuk mencapai jenjang pendidikan tertinggi. Kami meyakini (dan selalu berusaha untuk terus berpegang) bahwa keluarga adalah keseimbangan dan kebersamaan. Apa pun yang kami lakukan kami pertimbangkan untuk kebaikan bersama.

Ketika akhirnya kami sepakat bahwa saya akan mulai mencari sekolah di luar (negeri), semua langkah pun kami tujukan ke sana. Keputusan ini ibarat menanam modal di belantara bisnis. Saya tidak mau mengibaratkan ini dengan berjudi. Berjudi hanya memiliki tujuan untuk menang dengan mempertaruhkan sejumlah uang atau harta. Bila kalah, semua yang dipertaruhkan hilang dan hanya akan meninggalkan kemiskinan dan kekecewaan. Bukan, ini bukan berjudi. Berinvestasi barangkali lebih tepat. Memang banyak sekali “modal” yang harus kami keluarkan, tapi kami yakin bahwa meskipun akhirnya keinginan kami tak terpenuhi, namun kami mendapatkan banyak manfaat dan hikmah dari proses itu sendiri.

Ketika saya memutuskan untuk mulai mencari sekolah di luar negeri, anak kedua saya berusia 1 tahun 2 bulan. Saya memang hidup di dunia yang patriarkhis, namun alhamdulillah, saya dikelilingi oleh laki-laki yang sangat bijak dan adil. Suami saya (semoga Allah SWT melimpahkan kehidupan yang penuh barakah padanya, amiiin) sangat mendukung saya ketika rencana itu mulai muncul. Dia bukan saja mengorbankan karirnya untuk membantu saya berkonsentrasi mencari sekolah dan beasiswa, namun juga menjadi ‘bumper’ omongan miring yang menghantam kami karena keputusan ini. Alhamdulillah, Bapak dan Ibu (saya) juga sangat mendukung. Meskipun pada awalnya mereka, terutama Ibu, kaget dengan keinginan yang bukan saja sangat sulit diwujudkan, tetapi juga sangat riskan terhadap keutuhan keluarga kecil kami, namun beliau berdua menyerahkan sepenuhnya pada kami berdua. Dan yang sangat membahagiakan saya adalah dukungan dari Bapak Mertua. Sementara banyak saudara mengkhawatirkan bagaimana saya dan suami akan berbagi dan kemungkinan besar bertukar peran dalam rumah tangga, Bapak selalu memberikan pernyataan-pernyataan yang membuat keyakinan kami berdua semakin kuat. Bahkan dalam kunjungan kami terakhir kali untuk menjenguk beliau sebelum kami berangkat, Bapak sempat mengajak kami berdiskusi tentang kesetaraan perempuan dalam Islam, subtopik yang menjadi minat penelitian saya. Bapak berkeyakinan bahwa dalam Islam, keluarga adalah unit yang dijaga dan dikembangkan dalam kerangka keseimbangan. Pengetahuan beliau yang luas dalam hukum dan agama, ditunjang oleh kemampuan multi-bahasa yang luar biasa, memberikan penjelasan yang membuat saya semakin yakin dengan apa yang akan saya pelajari.

Dan begitulah… akhirnya jalan menuju Ph.D. yang panjang pun dimulai.